Wanita pengamen
http://diaryhari.blogspot.com/2009/12/wanita-pengamen.html
Aku mengenal wanita tua ini tak begitu lama, ku berkenalan dengannya baru 2 minggu kemrn ketika waktu pulang dari surabaya, seperti biasanya setelah selesai dari surabaya aku pulang ke probolinggo naik kereta api tapi kadang2 bus, kalau bus dari surabaya ke probolinggo sekitar 12-14 ribu kalau pakai bus ladju 12 ribu tapi bus akas dan lainnya biasanya 13-14 ribu waktu tempu kalau ngak macet 02.30 menit kalau dilapindo macet bisa 3jam-an, tapi kalau naik kereta jurusan surabaya ke probolinggo tiketnya lumayan mahal 18-19 ribu dengan waktu tempu kurang lebih 2 jam 15 menit kalau kereta ndak ada macet hanya paling2 nunggu keretanya lewat aja yg rada lama.
waktu itu aku pulang naik kereta api,kereta yang kunaiki kereta api penataran harga tiket Rp3.500 turun bangil-Pasuruan, karena kereta penataran tujuannya kemalang dan blitar,jadi aku turun di bangil biasanya ku sambung naik bus atau menunggu kereta dari surabaya yang ke probolinggo, he..he...iya kalau dari bangil ke probolinggo kan bisa bayar hanya 5.000 atau kalau beruntung bisa gratis hee..he...kan lumayan.
Sampai di stasiun bangil aku turun dari kereta dan mencari tempat duduk, setelah itu tak lama aku duduk mendekatlah seorang wanita tua umur berkisar 50tahunan,
ibu = "Permisi nak",
saya= "ya bu monggo"
ibu = duduklah wanita itu disamping, "mau kemana nak?"
saya = "mau ke probolinggo bu"
saya ="Ibu?"
ibu ="sama nak saya juga ke probolinggo",
saya ="dari mana bu?"
ibu ="Hee...he.."sambil senyum kecil,"dari ngamen nak",
saya ="ngamen?..."ngamen dari mana bu"
ibu = ya keliling ke bus, dari bus satu ke bus yang lainnya, jurusan malang atau surabaya.gmn lagi nak cari pekerjaan sulit,sedang kebutuhan terus bertambah, punya anak 4, anak pertama baru kerja, yang kedua diSMK, ketiga SMP dan keempat SD, trus gmn lagi bapak anak2 juga ngak kasih nafkah, kalau ngak kerja siapa yang menghidupi mereka.(sambil berbinar matanya)
saya = dah berapa tahun bu kerja gini?
ibu = baru 20 tahun, sebelumnya jualan asongan kurang lebih 2tahun, tapi sulit nutupin setorannya jadi ibu pilih ngamen aja, yang penting kerja halal, dan sepertinya lebih menghasilkan dari pada asongan.
Sahabat ternyata memang benar kasih ibu sepanjang masa, perjuangannya untuk memberihkan kasihnya kepada anak-anaknya kadang tak dapat kita balas dan kita ganti dengan senilai uang, tapi pengorbanannya sepertinya tak pernah diceritakan sama anak2, ketika dia lapas, haus, maupun ketika ibu itu mendapatkan cacian dan makian dari orang lain tapi dia tetap dengan kesabarannya mencoba menjadikan semuannya itu untuk membantu membuat anak2nya tersenyum.
Ibu sumarsih merupakan wanita yang sebenarnya waktunya dirumah tidak melakukan aktivitas pekerjaan yang berat sebagai pengamen jalanan, yang kadang kala bahaya mengancam hidupnya, tapi dengan tekadnya untuk memberihkan makan bagi anak2nya dia tetep berjuang.aku kadang malu dengan gelar sarjana yang kusandang tapi pengalaman hidup masih jauh dibawah ibu Sumarsih, kadangkala kita merasa bangga dengan gelar yng kita miliki tapi kita tidak melihat bahwa gelar yng kita peroleh itu ternyata ada orang2 besar yang telah membantu kita, iya Orang tua kita yang tlh membanting tulang untuk bisa memberihkan pendidikan yang tinggi untuk anak2.
Probolinggo, 4 desember 2009
Ilove to me mom
Posting Komentar